Cerita Ayah (dan Saya)

November 13, 2009

Teman saya, Gupta, berhasil membuat saya sentimentil di malam takbiran kemarin, lewat sms ucapan Hari Raya yang ia kirimkan. Isinya nyaris sama dengan yang lain, namun ia menambahkan sedikit pesan di akhir, sederhana, tapi sangat bermakna. Pesannya, ‘Jangan lupa berbakti sama Bapak lo ya!’ Saya merinding. Seketika, saya langsung memikirkan Ayah, yang saat itu sedang asyik nonton berita. Kemudian satu pertanyaan besar menggerogoti alam pikiran saya, Kapan saya bisa membahagiakan Ayah?

Ayah saya ternyata sudah tua, ya. Desember nanti usianya genap 61 tahun. Rambutnya kini didominasi warna putih dan hanya menyisakan sedikit warna hitam, membuatnya terlihat kusam. Kulitnya yang sawo matang kini bertambah matang. Tangannya sudah keriput. Kakinya terlihat mengecil karena asam urat dan pengapuran tulang. Dan ia akan berjalan pincang jika rasa nyeri di kakinya datang. Kasihan ayah. Lebih kasihan lagi kalau melihat kenyataan status Ayah sekarang sebagai ‘duda ditinggal mati’, yang membuat ia harus menjalani masa tuanya tanpa pasangan sesama tua, Almarhumah Ummi.

Bulan lalu, setelah melakukan pijat alternatif untuk asam urat, betis kanan kaki Ayah bengkak. Itu membuatnya tak kuasa berjalan. Bukan lagi pincang, tapi harus diseret. Saya miris. Ayah yang selalu shalat lima waktu di musholla samping rumah, namun sejak saat itu Ia hanya mampu shalat duduk di bangku ruang keluarga. Saya dan kakak-kakak khawatir. Pikiran saya tak karuan. Saya takut sesuatu terjadi pada Ayah. Saya takut sesuatu terjadi pada keluarga kami. Saya takut kembali kehilangan induk saya. Saya takut kehilangan Ayah.

Ketakutan sebulan lalu bukanlah yang pertama kalinya menggerayangi perasaan saya. Sejak Ummi meninggal, Ayahlah satu-satunya orangtua saya yang masih ada. Namun, tampaknya Tuhan terlalu senang mempermainkan perasaan saya. Tuhan, dengan kejutanNya selalu berhasil membuat saya khawatir. Ia rajin sekali memberikan Ayah penyakit, dan jika sudah begitu, saya bersumpah Demi Allah saya lebih senang harus menaiki Roller Coaster puluhan kali dibanding menghadapi ketakutan ini.

Hubungan saya dengan Ayah memang tak sedekat dengan Ummi. Ayah bukanlah Ummi. Misalnya saja, dulu Ummi selalu terjaga menunggu saya pulang bahkan hingga larut malam untuk membukakan pintu, setelah itu menanyakan apa yang terjadi seharian pada saya. Sementara Ayah akan menyuruh saya membawa kunci jika akan pulang malam, dan saya akan mendapati semua orang sudah tidur saat pulang. Tak ada lagi yang terjaga menunggu saya.

Entah sejak kapan saya merasa memiliki jarak dengan Ayah. Padahal, seingat saya, dulu saya cukup dekat dengannya. Ayah saya itu penuh kejutan. Saya ingat, dulu waktu SD saya minta dibelikan sepatu roda (Inline Skate) saat Ayah akan pergi ke Mester. Namun, yang saya dapatkan adalah kabar buruk kalau Ayah lupa membelikannya. Saya uring-uringan. Sampai malam harinya Ayah akhirnya mengajak saya untuk ikut beli sepatu roda. Tapi anehnya dia hanya mengenakan sarung dan kaos oblong. Saya marah, dan memintanya mengganti pakaian. Tapi Ia tetap tak mau. Sampai akhirnya saya menyerah dan menuju mobil. Namun, begitu saya buka pintu mobil, di atas jok sudah ada kardus besar berisi sepatu roda. Ayah tertawa. Itulah kejutan dari Ayah yang masih saya ingat. Walau tak sepenuhnya berhasil, karena ternyata ukuran sepatu rodanya kekecilan. Esoknya, Ayah mengajak saya ke toko untuk menukar sepatunya.

Dulu, saya juga senang ikut Ayah salat jumat, pakai vespa biru milik om saya. Yang saya senang dari ritual ini adalah saat Ayah menyuruh saya menitipkan sandal ke petugas penitipan, dan saya akan mendapatkan kartu nomor titipan. Sesudah salat Ayah memberi saya uang untuk diberikan ke petugas penitipan, dan mengambil sandal kami.

Ketika SMP, saya mulai sadar kalau Ayah saya itu orang yang cukup galak dan disiplin. Dulu, setiap subuh Ayah selalu membangunkan saya dengan menampar kaki saya. Berkali-kali. Cara yang sangat tidak manusiawi. Saya terbangun dengan kondisi sakit, dan ia meminta saya shalat Subuh berjamaah. Kalau tidak terlalu kesiangan, suara saya yang masih bau bantal dimintanya untuk beradzan. Saya ingat, dulu, minimal shalat Subuh dan Maghrib sering saya lakukan berjamaah dengan Ayah, dan Ia akan marah jika saya langsung ngibrit tanpa berdoa selesai shalat. SMP saya mulai menganggap Ayah adalah seseorang yang harus dihormati dan ditakuti. Mungkin dulu saya lebih takut dimarahi Ayah dibanding dimarahi Tuhan, jika tidak salat.

Kebiasaan shalat berjamaah makin jarang bisa kami lakukan saat saya SMA, apalagi saat kuliah. Kesibukan membuat saya menjadikan rumah justru hanya sebagai transit, dan waktu lebih banyak saya habiskan di luar. Terlebih saat saya kuliah ektensi ditambah bekerja. Biasanya, saya akan mendapati Ayah sudah tidur saat saya pulang, dan ketika pagi saya bangun, Ayahlah yang sudah keluar. Mungkin sejak saat itu saya perlahan-lahan membangun tembok antara saya dan Ayah, dan hingga kini, tembok tersebut makin tinggi, besar dan kokoh karena waktu.

Saya ingin menghancurkan tembok itu. Saya ingin kembali ke waktu dimana tak ada tembok yang membatasi saya dan Ayah. Saya ingin kembali dekat dengan Ayah, sebagai teman. Bukan sebagai anak yang takut dengan Ayahnya. Bukan sebagai orang dewasa yang ngobrol soal politik, ataupun keuangan dengan orang yang lebih tua. Saya ingin berteman dekat dengan Ayah, sebagaimana saya sangat dekat dengan Ummi. Menceritakan hal yang tidak penting, kesialan, rasa sedih, senang, malu, ataupun peristiwa bodoh yang saya alami.

Saya sudah tak memiliki kesempatan untuk bisa menyenangkan Ummi. Ummi sudah pergi, jadi biarlah hanya doa yang bisa saya kirim untuk membuatnya tersenyum di surga. Saya hanya memiliki kesempatan dekat dengan Ayah, dan saya tahu kesempatan itu tidak akan berlangsung lama. Ayah sudah tua, saya pun akan bertambah usia. Kalaupun Tuhan tak memberi saya waktu untuk itu, maka sisa keinginan terakhir adalah membuat Ayah bahagia. Saya, anak Ayah yang jarang bicara dengan Ayah, tahu sekali apa yang bisa membuatnya bahagia. Ayah butuh pengganti Ummi untuk menemani masa tuanya, sebagai teman ngobrol di kamar saat Ayah tak bisa tidur, dan menemaninya tidur. Teman saat sarapan. Teman menonton. Teman saat anak-anak Ayah sudah meninggalkan rumah dan menjalani hidup mereka masing-masing. Ya, saya berdoa Ayah akan segera mendapatkannya.

Saya ingin Ayah tertawa. Ayah itu juara, dan seorang juara selalu pantas bahagia!

Ayah

Ayah saya, Bpk H. Moh. Achyar

Pisangan Baru/131109/21:02

Singled Out :)

November 9, 2009

stalaktit

stalaktit penis

stalaktit 2

stalaktit vagina

Konon katanya, lelaki atau perempuan lajang dipercaya akan mendapatkan pasangan setelah menyentuh stalaktit lawan jenisnya (entah kalau yang ingin memegang stalaktit sesama jenisnya. hahaha)

Lokasi:  Goa Parat-Cagar Alam- Pangandaran, 31 Oktober 2009

Lokasi: Masjid An-Nur – Stasiun Tugu, Yogyakarta

Go Home

October 22, 2009

I want to go to the park.  still waiting for the day.  daydreaming till evening.  not willing to spend the night sleeping.  enjoying the solitude with you.

I want to go to the park. kissing the grass. making love with the ground. remaining soil smell of rain. playing spray-splash. ended with a roll-up to overthrow all my body become brown.  game ten years ago without shame I did.  and after coming home and you’re ready to yell at me until I pinched spicy pain.  I grumbled at the time was almost crying. but later, I’ll smile.

why do we have to grow up and eventually grow old if it no longer makes life beautiful?
why life must always walk and even run until I’ve got tired and sweaty? whereas with all this silence everything means much more

you said the world is not the space to relax. I’ll never stop tired, because the world is not the place to rest.  but for what is heaven if I’m not with you there?

you’ve gone. may have a long way and do not remember me anymore, and it increased  my hatred with the time that always running forward arrogantly without going into the bow slowly back.  let me take back what was stolen and then quickly sped it away.

I want to go to the park, because I know you’re there.

This time, I will not grumble and make you frown and wrinkle your forehead.

I just want to repeat the last day you’re with me without any pain that makes you unable to say goodbye. I just want to see you smile without the eyes to cry.  I just want to remind you of all that has gone from you and me.

I want to go to the park. and you must promise never to go again …

(for beloved ummi in heaven and in the soul)

Bumi Raya

October 13, 2009

BRAAAKKK. Pintu kamar itu didobraknya. Kencang. Bumi ingin suaranya membunuh hening yang terus mengorupsi hidupnya. Malam itu pukul delapan malam. Baru pukul delapan malam. Sepi. Malam itu bagaikan pukul dua belas malam. Bahkan pukul dua belas malam belum tentu sesepi itu. Lampu ia matikan. Gelap. Lebih gelap dari malam. Ia terbaring tapi tak tertidur. Matanya sama sekali tak berkedip. Wajahnya sama sekali tak bersahabat. Ia seperti mayat penasaran yang mati terbelalak. Menyisakan dendam kepada yang membuatnya mati. Tatapan Bumi kosong, walaupun tak benar-benar kosong. Ia hanya menatap kumpulan pendarfluor berbentuk bintang diatas langit-langit yang jumlahnya hanya puluhan. Kumpulan bintang yang sengaja ia gantungkan di langit-langit yang sengaja ia cat dengan warna biru langit. Langit-langit yang tak berawan. Hanya biru ditambah noda coklat sisa bocor karena hujan. Noda yang membentuk seperti lautan. Lautan yang terbang diatas langit. Bintang-bintang itu sedari pagi sudah tampak tapi tak bersinar. Dan ketika semua benar-benar gelap cahaya yang redup berwarna hijau akhirnya benar-benar menyala dan sesekali tampak berkedip. Seperti wanita penggoda di lokalisasi. Semua mata mengerling kepada Bumi. Hanya kepadanya. Dialah satu-satunya sensasi malam ini.

Kenyataannya, permainan kedip-kedipan itu tak cukup membuat Bumi tersenyum. Malah bertambah murung. Kenyatannya, permainan kedip-kedipan itu tak membuat Bumi berkedip. Malah semakin tegang. Bumi menatap sekaligus mengacuhkannya. Ia tak merasakan sensasinya. Kini ia persis seperti seseorang yang ingin mati tapi tak bisa mati. Ia hanya menunggu. Entah siapa yang ia tunggu. Entah apa yang ia tunggu. Ia kosong. Sumpek.  Hanya itu  yang  dirasakannya.  Bumi  semakin sumpek membuat Bumi merasa benar-benar sumpek.

Itulah yang dipikirkannya. Hanya itu yang dipikirkannya. ia tidak lagi berpikir bagaimana keluar dari labirin yang menyesatkan ini. Ia tak lagi mau berpikir tentang dunia yang lebih luas dan berlari setinggi-tingginya. Terbang sekencang-kencangnya. Ia apatis. Ia hanya berpikir dirinya najis.

Namanya Raya. Bumi menyukainya. Gadis yang tidak terlalu cantik. Tapi bagi mereka yang dimabuk asmara semua pasti terlihat indah. Bagi Bumi yang benar-benar dimabuk cinta. Raya benar-benar indah dan mempesona. Ia kecanduan Raya. Di kamarnya yang tidak terlalu besar, Bumi memasang foto Raya yang cukup besar. Lebih mirip poster bintang terkenal. Tidak. Lebih mirip kalender dengan gambar model perempuan sedang tersenyum dan menopang dagu. Tak hanya itu. Di sekelilingnya masih ada gambar-gambar Raya yang lebih kecil. Banyak. dengan gambar itu setidaknya Bumi merasa tenang. Dan senang. Masih ditembok yang sama ia menulis namanya besar-besar  diikuti nama Raya yang tak kalah besar. BUMI RAYA. melihat tulisan itu ia semakin yakin kalau mereka berjodoh. BUMI RAYA. Bumi yang besar. Yang ia pikirkan saat ini berubah menjadi Bumi yang begitu besar. Dunia yang begitu indah. Hidup yang begitu berharga. Karena Raya. Seakan gambar Raya bergerak, mengerlingkan mata. Menggoda. Dan jika memang ini sebuah daerah lokalisasi, maka Raya adalah pelacur yang membuat Bumi rela dilacur. Sensasi yang ditawarkan Raya benar-benar membuat Bumi ngawur. Imannya Kabur. “Raya aku mau kamu. Cuma kamu. Aku mau beli kamu.” Imannya benar-benar kabur. Jauh meninggalkan wajahnya yang alim. Persis seperti remaja mesjid yang tujuh hari tujuh malam bertapa di mesjid, dan ketika benar-benar mabuk ia tak mampu lagi melihat Tuhan. Hanya setan. Keimanannya membodohinya. Persis ketika seorang muda yang ingin belajar ilmu gaib namun tak kesampaian. Menjadi gila. Bumi adalah pria yang benar-benar mengejar Raya. Hingga nyaris gila. Karena Raya tak mencintainya. Ia tak mendapatkannya. Maka malam ini ia benar-benar berdoa pada Tuhan. Berdoa pada bintang buatan yang berenang di lautan yang terbang di langit-langit biru, maupun bintang sungguhan di malam gelap agar Raya benar-benar menjadi pelacur. Atau setidaknya satu malam mereka bertemu. Raya pusing dan terjatuh. Bumi mengantarkan ke rumahnya. Bumi mengeksekusinya. Hingga pagi hari mereka terbangun. Raya mual. Raya melihat mereka berdua bugil. Raya menangis. Raya minta Bumi bertanggungjawab. Bumi dengan senang hati mengiyakan. Mereka menikah. “Tuhan tolong kabulkan doa saya!” (Tuhan tolong kabulkan doa cabul saya). Sepertinya Bumi tak lagi nyaris gila. Tapi sudah gila.

Kenyataannya Raya bukanlah seorang pelacur. Bahkan hampir tak mungkin menjadi pelacur.  Jauh dari harapan Bumi. Raya adalah gadis suci yang saking sucinya, ia menolak untuk menjalani hubungan yang namanya pacaran. Jangankan pacaran. Ia bahkan menolak bersentuhan dengan spesies yang berjenis kelamin pria. Mungkin yang tak memahaminya akan menghardiknya dan mengucilkannya layaknya ia najis muttawasitah. Ia memakai jilbab. Baju kebesaran lengkap dengan manset. Untung tidak ditambah cadar. Entah bagaimana mulanya Bumi mencintai Raya. Raya yang secara fisik biasa saja, dan penampilan jauh dari biasa. Namun cinta memang selalu bisa menemukan celah bahkan di lubang yang paling kecil. Karena apa yang dipakai Raya sama sekali tidak menunjukkan celah tubuhnya. Apa jadinya jika Tuhan sedang benar-benar berbaik hati dan mengabulkan permintaan Bumi. Raya menjadi pelacur. Di satu sisi mungkin menguntungkan jika Raya tetap menjaga penampilannya. Mungkin ia tak akan pernah yang namanya tertangkap saat ada razia pelacur oleh satpol pp atau aktivis agama. Justru ia akan diajak untuk membimbing pelacur ke jalan yang benar. “Wahai saudaraku. Ingatlah ajaran Tuhan. Hiduplah lurus di jalanNya. Kita sebagai perempuan harus pandai menjaga aurat kita.. bla.. bla… bla.. ble.. ble.. blee… jilbabelula.. jilbabelula…“ Setidaknya seperti itu khutbah yang akan ia sampaikan. Seperti sesi keputrian sekolah menengah atas di hari jumat saat siswa pria sedang tak khusyuk mendengarkan khutbah jumat.  Tapi di sisi lain, apa kata mereka, mahluk-mahluk yang tak mengerti mahluk seperti Raya dan Raya-Raya lainnya. Maka bukan hanya Raya yang dianggap najis mutawasitah. Bisa-bisa semua perempuan berjilbab terkena dampak streotip mereka. Atau mungkin Raya akan menjadi pendobrak pelacur era millennium. Globalisasi pelacur. pakaiaannya yang seperti kain bertumpuk-tumpuk pasti membuat pelanggannya tak tahan menunggu ia melucuti helai demi helai. Dan gairah mereka justru makin tak tertahankan. Tuhan maafkan doa cabulku ini.

Mungkin doa pertama tak akan pernah terkabulkan. Raya benar-benar anak Tuhan, dan orang tua mana yang rela mengizinkan anaknya yang solehah menjadi pelacur. Bumi perlahan mulai waras. Ia menghela nafas panjang. Jelas mukanya memperlihatkan penyesalan teramat dalam karena telah menzalimi umat kesayangan Tuhan. Ia sadar dosanya benar-benar akan melemparkannya ke neraka jahannam. Bahkan sebelum ia meninggal. Ya, karena malam ini jelas ia semakin melihat banyak setan di kamarnya yang sedari tadi gelap. Dan mulai panas. Tatapannya kembali kosong. Ia kembali seperti mayat penasaran. Terjawab sudah ia penasaran pada Raya. Dan sampai malam ini Raya tak datang juga.

Malam ini yang membuatnya terperanjat justru kehadiran Ayahnya, secara mendadak di kamarnya.

“A…Ayah!”

Ayah hanya tersenyum

“A… Ayah.. ada apa Yah?”

Ayah mulai terdiam

“Yah, kenapa diam?”

Kali ini Ayah memasang wajah murka

“Ayah marah?”

Kali ini ayah benar-benar pergi

“Yah.. Ayah kok pergi.. Ayah mau ngomong apa?”

Ayah pergi menyisakan Bumi yang bingung keheranan. Kenapa Ayah tiba-tiba datang? lalu wajahnya menjadi sangar dan tiba-tiba pergi tanpa basa-basi. Apa ayah tahu yang ia pikirkan? Tidak. Gawat.

Ketidakmungkinan Raya menjadi pelacur. Ketidakmungkinan Raya datang dan mau diajak tidur. Kedatangan Ayah yang sekaligus pergi. Semua membuat Bumi kembali makin terperangkap dalam labirin yang seakan melebar. Ia semakin sesat. Dalam kesesatan yang sendiri ia ciptakan. Jalan satu-satunya hanyalah menceritakan kegundahannya pada ibu. Ibu yang sudah setahun ia abaikan seiring perpisahannya dengan ayah. Ibu yang sudah setahun sulit ia temui. Dan ia benar-benar berharap bisa menemui ibu seiring kedatangan ayah.

“Tuhan, ampuni aku. Kabulkan saja doaku yang ini?”

Tuhan menjawab. Cepat. Rupanya ia belum terlempar ke neraka karena Tuhan masih mendengar  doanya.

“Ibu…!”

Ibu menghampiri Bumi. Memeluk Bumi dengan sangat lembut.

“Ibu.. Bumi kangen?”

Ibu menghapus air mata bumi

“Bu, Ibu nggak kangen sama Bumi?”

Ibu tersenyum. Ibu melepaskan pelukan. Ibu pergi.

“Buuu.. Ibuuu.. Ibu kenapa pergi? Ibu nggak kangen sama Bumi..?”

Ibu menghilang

Bumi tersadar. Bumi terbangun walau sedari tadi ia tak tidur. Perlahan matanya yang kosong terisi air mata yang mulai kepenuhan dan kembali meluber. Ia hanya punya pipi yang tak cukup lebar menampungnya. Air mata itu jatuh terus ke bantal dan menyisakan lembap. Ia menangisi Ayah dan ibu yang datang dari surga, Namun sepertinya mereka benar-benar marah hingga tak mau bicara sedikitpun padanya. Padahal sudah setahun mereka tak berjumpa. Dan semua berakhir dengan sangat tak enak. Mungkin mereka murka. Tuhan mempermainkannya. Tidak. Tuhan sedang menghukumnya. Mungkin Tuhan murka. Bumi kembali teringat Raya. Kembali memandang foto Raya yang kini hanya berwarna hitam tertutup lampu yang mati dan gelap yang semakin gelap. Sekarang sudah benar-benar pukul dua belas malam. Dan Bumi teringat ia belum shalat isya. Ia pun berwudhu. Ruangan yang panas perlahan membeku kedinginan angin malam. Bumi tampaknya sudah benar-benar waras. Rupanya Tuhan belum murka. Selesai Shalat ia memohon ampun seampun-ampunnya pada Tuhan. “Tuhan lindungilah ibu dan ayahku di surga!”

Bumi merebahkan semua tubuhnya. Seperti daging yang kehilangan tulangnya. Ia terkapar lemas. Wajah Raya masih berkumandang di pikirannya. Semakin jelas. Semakin kuat. Ia menemukan tulangnya. Ia kembali bergairah. Cara Tuhan memang aneh dalam mewujudkan doa manusia. Raya datang. Tuhan mendatangkannya. Justru saat Bumi ingin menyudahi semua. Saat Bumi ingin taubat. Namun Raya semakin mendekat merangkulnya. Saat ini ia pun bingung apakah Tuhan sudah mengampuninya atau masih murka. Dan malam yang dingin justru membuat Bumi menggigil. Ia butuh kehangatan. Ia tahu sekali ini bukan permainan Tuhan. Ia tahu sekali ayah ibunya tak hanya marah di surga, tetapi mungkin sudah mengutuknya. Ia tahu sekali setan dikamarnya sedang tersenyum mungkin akan tertawa. Lebar. Terbahak-bahak. Mereka menang. Tapi ia tak peduli. Ia hanya butuh kehangatan, dan yang ia tahu yang ditunggunya telah datang. Dipeluknya Raya erat-erat. Diciumnya Raya dengan sangat nikmat. Dipeluknya guling erat-erat. Diciumnya guling dengan sangat nikmat.  “Tuhan ampuni aku. Tapi tolong, malam ini izinkan aku masturbasi!”

Jakarta, 9 Januari, pk. 23:11

Terimakasih

October 2, 2009

Iseng-iseng tidak ada kerjaan, saya buka pesan-pesan lama di surel, dan menemukan beberapa pesan tahun lalu yang cukup mengharukan dari teman-teman seputar almarhumah ummi. Saking tidak ada kerjaannya, saya pun menggabungkan semua pesan tersebut dalam tulisan ini. Terimakasih sebelumnya untuk teman-teman yang sudah peduli, dalam bentuk apapun, terhadap saya, ummi, dan keluarga yang ditinggalkan. Kira-kira inilah pesan yang bisa saya salin

Meftia:

 

teman-teman, sekali lagi minta doa buat ibunya Abe….

Semalem Abe sms gw dan minta bilang kalo ibunya mo dibawa pulang dari rumah sakit hari ini soalnya keluarga mereka udah kasihan ama kondisi beliau dan ikhlas kalopun beliau harus “pergi”.

Ya kita doain aja deh yang terbaik buat ibunya abe dan keluarganya.Abe…
yang sabar yah…
doain aja yang terbaik buat nyokap…

Makasih
Mira:

Abe…
yang sabar yah…
doain aja yang terbaik buat nyokap…

Lily:

semoga semua amal ibadah beliau selama di dunia diterima di sisi-Nya dan diberikan tempat terbaik disana. buat abe dan keluarga yg ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan keikhlasan…amien.

Nisa:

semoga diberikan yang terbaik untuk ibunya abe dan sekeluarga.

be… gw n temen2 kommas semua pasti ngedoain, jadi… semangat ya uas nya.

Keempat pesan tersebut dikirim, saat ummi masih koma dan segera dipulangkan karena keluarga sudah ikhlas. Tak lama, ummi meninggal, kemudian beberapa pesan duka kembali bermunculan:

Popy:

Dear teman 2 KOMMASS 2007

Baru saja saya terima SMS dari Risna, klo Ibunya Abe Meninggal Dunia hari ini, mari sama-sama kita berdoa semoga arwahnya diterima disisi Tuhan YME

Topan:

Abe yang sabar ya…
mungkin ini yang terbaik buat Ibu Abe…
doa kami buat Ibu Abe…

nisa:

innalillahi wainailaihi rojiun….

semoga almarhumah diterima diberi tempat yang terbaik di sisi Nya dan di terima segala amal ibadahnya.

be… yang sabar n ikhlas ya….

dany:

innalillahi wainna ilaihi roji’un. semoga Allah SWT meridhoi semua amal ibadahnya. abe, smoga lu ikhlas dan terus berdoa untuk ibu lu. 

karena doa anak yang soleh tidak memutuskan hubungan dunia dan akhirat.
  
dita:
 
Abbe… turut berduka cita..
Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT.
Buat Abbe dan keluarganya, semoga tabah ya.

Tito, monggo diorganisir… 

pia:
 
Innalillahi…Be, turut berduka cita yah.
Smoga lo dan keluarga diberikan ketabahan & kekuatan…
 
Uut:
 
Be, turut berduka cita…
Semoga loe & keluarga diberi ketabahan. Amiin..
  
Viani:
  
Abe..turut berduka cita ya..
  
Anna:
 
Turut berduka cita be..
Semoga keluarga lo diberi ketabahan dan kekuatan.
 
Fia:
 
Dear Abe,
Yang kuat ya..
G doain lo sekeluarga tetap selalu dilindungi Allah
SWT..

Maaf g ga bisa ngelayat..tp g percaya,Allah ga pernah
ngasih cobaan yg keluar dr batas kemampuan kita..dan
Lo pasti termasuk orang2 berjiwa besar yang ada di
Dunia ini!!!

Sabar ya be..

semoga amal ibadah beliau di terima di sisi Allah SWT

dan Abe sekeluaga diberi kekuatan dan ketabahan

aminn..

Lanny: 

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,,,,
Turut berduka cita ya Be..

Yang sabar ya..smoga beliau tenang di sisi-Nya..
amien..

Maaf gak bisa ngelayat ya..kita dari sini doain keluarga lu smg diberi ketabahan dan kekuatan,

Ucy:

Abe…
Maaf ga bisa ikut ngelayat… Doa aja smoga amal
ibadah Bunda di terima di sisi-Nya dan mendapatkan
tempat yg terbaik disana…
Buat Abe & keluarga semoga diberi keikhlasan dalam
menerima cobaan ini… Amien…
Yg tabah ya be… GBU..
 
Arie:
Abe, turut berduka cita, semoga ibu lu bisa beristirahat dengan tenang.
Dan lu serta keluarga diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Amien
 
Mira:
 
For everything there is a season,
And a time for every matter under heaven:
A time to be born, and a time to die;
A time to plant, and a time to pluck up what is planted;
A time to kill, and a time to heal;
A time to break down, and a time to build up;
A time to weep, and a time to laugh;
A time to mourn, and a time to dance;
A time to throw away stones, and a time to gather stones together;
A time to embrace, And a time to refrain from embracing;
A time to seek, and a time to lose;
A time to keep, and a time to throw away;
A time to tear, and a time to sew;
A time to keep silence, and a time to speak;
A time to love, and a time to hate,
A time for war, and a time for peace.
 
 
Ocky:
 
Innalillahi wa inna ilaihi rajiunn,, Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya Ibunya Abe. Semoga piahk yang dtingggalkan mendapat kesabaran dan ketabahan. amin
 
Devy:
 
dearest Abe…
Devi turut berduka cita sedalam-dalamnya yaaa…
Smoga amal ibadah ibunda Abe diterima di sisi Allah SWT.
dan smoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran.
Amiinn…
 
Astrid:
 
Be,turut berdukacita ya.. Semoga abe sekeluarga dikuatkan selalu.. Amin.
 
Ayas:
 
dearest Abe
semoga Ibunda Abe mendapat tempat yang terbaik di sisiNya ya, Be.
ayas turut berduka cita sedalam-dalamnya.
yang sabar ya, be…..
 
Icha:
 
Abbe,
Turut berduka cita atas meninggalnya ibu Abbe.
Semoga Abbe dan keluarga diberi ketabahan.
 
 
Ani:
 
buat abbe,
semoga tabah dan ikhlas ya…
mungkin ini yang terbaik
tetap semangat yaaa!!
 
———————————
Pesan-pesan tersebut datang dari teman-teman di kommas UI di milis kommas. Yang lebih mengharukan saya adalah ketika saya membaca milis dari teman-teman Broadcast UI 04.
 
Tito:
  
Ehh…tadi SMS gue, katanya, nyokapnya Abe udah pulang krmh dalem keadaan yang kayaknya masih koma. Nah, gini nih pren, kmrn tania n dhani ngobrol2 ama gue. Gimana kalo qta ngumpulin bantuan untuk Abe n keluarganya untuk ngadepin cobaan yang ini. Yah, mungkin selain dorongan moral, semangat, atau doa, qta juga bisa berbagi sedikit dari uang kita untuk kemanusiaan ini. Gue bersedia jadi koordinatornya, tapi gue belom ada ide untuk prosedur yang paling efektif n efisien. Kalo ada yang punya saran kasitau yak…
Yap, itu dulu aja sih. Yang pasti, upaya bantuan kita ini jangan sampe nyinggung perasaan abe, tapi diharapkan bisa ngebangun lagi semangat kita untuk maju bareng2 sejak di BC dulu.
 
Buat abe, semoga semua berjalan sesuai kehendak-Nya aja. Gak ada yang bisa ngelangkahin kehendak-Nya. Kita hanya bisa berharap dikasih yang terbaik dari Dia, karena cobaan yang Dia kasih nggak akan pernah ngelampaui kekuatan kita. Gue salut ama Abe yang selalu senyum, walopun mungkin hatinya sulit untuk senyum. Be Strong..bro. ..GBU
 
 
Dhani:
saran gue,,
untuk yg masih kuliah bisa lgsg kasih ke tito,
kasih deadline,to, ,paling ga hari jumat kita bisa kasih..
toh ini udah memasuki hari” terakhir kita efektif kuliah bukan?
 
Untuk yg ga bisa ke kampus atau ketemu tito,bisa dititipin ke anak” yg kuliah
atau transfer?
 
gimanapun caranya,,yg penting harus ikhlas..
  
Uma:
Eh, ibunya abe kenapa????
Gue mau duuuunk…. transfer ke rekening siapa nih….?? Lebih enak sih transfer ke satu orang ajah…
 
Temmy:
nyokapnya abbe emang udah dikeluarin dari rumah sakit.
tapi keadaannya masih koma. katanya, abbe dan sekeluarga udah ikhlas kalau sampai hal yang paling nggak diinginin itu terjadi… seenggaknya nyokapnya abbe lepas dari alat-alat dokter yang bikin tambah sakit itu…
untuk temen-temen semua…kita sama-sama berdoa ya untuk kesembuhan nyokapnya abbe..
buat abbe…yang kuat ya be! terus jangan lupa untuk terus sabar dan ikhlas…
 
 
Emel:
Abbe…. I love you loh…

Bagaimana kabar lo?
tetap semangat dan berdoa ya,,,,

mending kita sekalian jenguk ke rumah abbe!

Dimin:
abe, be strong…

gw yakin banget ALLAH bakalan ngasih jalan yang terbaik buat lo dan
keluarga lo dan gw yakin banget klo ALLAH ga bakalan ngasih cobaan ke
umat-Nya yang ga bakalan bisa dilewatin oleh umat-Nya itu sendiri…

gw selalu berdoa buat kesembuhan nyokap lo…

be a tough guy…..

———————————————-

Ternyata cukup banyak juga ya. Sebenarnya masih ada beberapa pesan dukungan teman-teman lewat sms, termasuk pesan-pesan yang saya anggap  keramat yang baru saya sadari itu adalah firasat dari semua peristiwa ini. Sayangnya karena sesuatu hal beberapa pesan terhapus :(
Saat almarhumah disemayamkan, alhamdulillah cukup banyak juga teman yang datang, mulai dari teman SMP, SMP, sampai kuliah (padahal saat itu hari  pertama UAS).
Terimakasih yang teramat sangat ingin sekali saya sampaikan untuk Tia bersama rekan-rekan FSI UI yang sudah banyak membantu menenangkan saya. Dhani untuk dukungan, dan bantuan selama ummi dirawat. Ai dan keluarga yang membantu lewat doa. Tito untuk inisiatif penggalangan dana dan teman2 Broadcast yang sudah membantu. Temmy yang sudah banyak menggantikan tugas-tugas kantor. Gupta dengan sms ajaib saat saat saya jatuh. Mario, Jaka, Ami, Yudha yang mau meluangkan waktu menjenguk ke rumah sakit sehari sebelum ummi meninggal. Dan semua teman yang sudah mau datang melayat dan mendoakan ummi.
Tak terasa sudah setahun lebih Ummi pergi…. Alhamdulillah setiap mimpi saya bertemu ummi selalu yang baik-baik. InsyaAllah Ummi sudah tenang. Saya yakin di surga sana Ummi juga berterimakasih pada kalian semua. Sayang, Tuhan tidak menciptakan modem penghubung dunia dan surga. Saya kangen Ummi saya…
Sekali lagi terimakasih…
Salam,
Achmad Baehaki/Abbe Achmad/Anak Ummi

 

Kelapangan

October 2, 2009

Tidakkah telah Kami lapangkan dadamu untukmu?
dan Kami lepaskan bebanmu daripadamu
yang memberatkan punggungmu
dan Kami meninggikan bagimu sebutan (nama)mu
Sebab sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
Maka apabila kamu telah selesai (urusan dunia), maka bersungguh-sungguhlah (dalam beribadah)
dan hanya kepada Tuhanmulah berharap
-Al-Insyirah-

Saya jatuh cinta pada surat ini. Tepatnya sejak Mei tahun lalu. Saat ibu saya koma dan akhirnya meninggal, saya diingatkan seorang teman penggalan ayat surat ini. Sebab sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan janji Allah tidak main-main, karena Ia menegaskan kembali. dua kali. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Alhamdulillah Allah benar-benar melapangkan saya, sehingga saya tampak   berada dalam kondisi ( yang mungkin) tak wajar saat almarhumah disemayamkan. Saya tidak menangis. Saya tidak takut. Saya bisa tersenyum, bahkan tertawa.

Terimakasih Ya Rabb

Tangan saya memegang tangan ummi dua hari sebelum beliau wafat

Tangan saya memegang tangan ummi dua hari sebelum beliau wafat

Stress

October 2, 2009

Perkenalkan nama saya Akal. Tanpa saya binatang bukanlah binatang. Tanpa saya manusia bukanlah manusia. Tanpa saya manusia bisa jadi binatang. Tanpa saya binatang bisa jadi sangat liar. Saat ini saya benar-benar merasa terganggu. Semua di sekeliling saya benar-benar membuat saya terganggu. Semua berawal saat saya, Jiwa, dan Hati diundang ke pesta sahabat kami, Otak. Otak yang pandai namun terkadang bodoh. Sebenarnya saya malas menghadiri pesta itu. Saya tahu bagaimana sesungguhnya Otak itu. Kadang bisa sangat pandai. Kadang bisa sangat bodoh. Kadang bisa sangat alim. Kadang bisa sangat liar. Kadang bisa sangat bersih. Kadang bisa sangat kotor. Saat itu saya takut otak kotornya sedang muncul. Karena dia tak hanya mengundang kami. Dia mengundang Penis, Memek, Payudara, Bibir, dan Nafsu. Saya sangat membenci Penis, Memek, Payudara, Bibir, dan nafsu. Jika bertemu mereka kadang saya jadi tak menentu. Kadang Jiwa jadi tak menentu. Kadang Hati jadi tak menentu. Dan saya tahu Otak pun jadi tak menentu. Saya bertanya pada Jiwa tentang hal ini. Saya berpikir sebaiknya kami tak pergi. Saya berikan segala argumentasi. Namun Jiwa dengan tegas menolak. Ia bilang saya tak masuk akal. Dia malah menuduh saya takut dengan Nafsu. Saya takut dikalahkan Nafsu. Saya jelas tidak takut pada Nafsu. Saya bisa mengalahkan Nafsu. Tapi masalahnya Nafsu tak datang sendirian. Ia datang bersama teman-teman. Dan mereka sering memprovokasi Nafsu. Saya akui kadang saya merasa lemah jika Nafsu bersama teman-temannya. Begitu lemahnya hingga kadang saya mengumpat sejauh-jauhnya. Berlari sejauh-jauhnya. Tapi akankah nanti saya bisa mengumpat? Akankah nanti saya bisa berlari? Saya tidak mau tampak bodoh.

 Tidak puas pada Jiwa, saya pun bertanya pada Hati. Mengungkapkan hal yang sama pada Hati, dengan penuh emosi. Namun bukannya setuju, dengan tenang Hati menyuruh saya tak berprasangka buruk. Ia menyuruh saya membersihkan diri dari pikiran buruk. “Jika memang Nafsu jahat, dengan kamu yang bersih tentu kamu dapat melawan. Dengan Jiwa yang bersih tentu Jiwa dapat melawan. Dengan saya yang bersih saya pun dapat melawan. Dengan kita bersatu, kita dapat melawan”, ucap Hati. …

“Dara, gimana persiapan lo buat pesta malam nanti? Pakai baju apa? Eh tunggu kayaknya lo tambah besar deh, lo apain?” tanya Nafsu sedikit heran.

“Ah, cuma pakai obat biasa. Yang sering diiklanin di TV. Biar lebih besar, lebih besar, dan semakin percaya diri. Murah lagi. Gimana terbukti kan? haha.. Semua pasti akan mengakui bahwa aku adalah payudara terbesar dan terindah malam nanti..” jawab Payudara dengan bangga. “

Alaah paling juga lo pasang silikon kan? Nggak wajar tuh gedenya?” timpal Penis meledek.

“Enak aja. Nggak percaya? Ini asli. Mau pegang. Tuh asli kan… tuh… lihat… hmm… asli kan? Jangan-jangan lo kali yang manjangin punya lo? Iya kan?” balas Payudara sambil memamerkan dadanya.

“Wah gue mah nggak perlu gitu-gituan. Dari dulu punya gue juga udah panjang. Tanya aja sama Memek. Iya nggak, Mek?” jawab Penis santai

“Mmm.. iyaa sih.. panjang, keras, mmm..” kata Memek genit.

 “Alaah, udah gitu aja ribut. Masa bodoh deh lo pada tambah gede kek, tambah panjang kek. Yang penting gue nggak mau malam nanti lo pada keyok. Ntar baru sejam lo pada tepar lagi. Gimana gue mau kerja?” Nafsu memotong.

“Haha tenang aja kali. Lo nggak liat, gue juga udah seksi kan? Merah. Tebal. Tadi kebetulan gue beli lipstik terbaru. Gimana? Nafsu kan? Kalo kayak gini mana mungkin tepar.” Timpal Bibir menggoda.

 “ Yaa… yaa.. yaa.. Terserah. Tetap aja nanti yang lembur gue. Gue bakal bikin semua kalah sama hawa gue, hehehe..” Nafsu mengakhiri.

 …

Malam itu akhirnya kami pergi. Awalnya saya malas. Awalnya saya memutuskan untuk tak pergi, dan membiarkan yang lain jika tetap ingin pergi. Namun mereka teramat berhasil mengeroyok saya untuk tetap pergi. Perasaan saya saat itu tak enak sekali. Saya tak dapat berpikir jernih. Saya benar-benar kehabisan akal. Saya buntu. Namun saya tetap pergi. Tiba disana, tamu belum banyak yang datang. Hati, dan Jiwa tampak begitu senang. Mereka begitu ceria. Otak pun demikian. Mereka begitu menikmati pesta. Saya? Rasanya saya ingin kabur saja. Pulang ke rumah lalu tidur. Saya benar-benar tak nyaman berada disini. Saya mau muntah. Tuhan tolong saya…

Tak beberapa lama, tamu-tamu berdatangan. Seketika ruangan yang luas ini menjadi ramai. Menjadi sesak. Menjadi sempit. Mereka benar-benar cantik dan tampan. Mereka menggairahkan. Tidak. Mereka sama sekali tak menggairahkan. Saya tidak boleh tergoda. Tuhan tolong saya…

Saya hanya terdiam. Saya memisahkan diri dari Jiwa dan Hati. Saya memisahkan diri dari keramaian. Semua berdansa. Saya duduk. Saya terdiam. Saya tercengang. Nafsu dan teman-teman rupanya sudah datang. Mereka sangat menantang. Mereka sangat menggairahkan. Saya semakin tercengang. Tidak. Saya tidak boleh tergoda. Saya tidak boleh kalah. Tuhan, mengapa Kau tak menolong saya?

Payudara semakin besar. Ia benar-benar percaya diri. Ia benar-benar indah. Ah, tidak. Ia menjijikkan. Penis semakin gagah. Mungkinkah orang tergugah? Mungkinkah hati tergugah? Bibir itu semakin seksi. Merah. Tebal. Semakin tebal dan warnanya benar-benar menggairahkan. Saya tergiur. Tidak. Saya tidak boleh tergiur. Saya tercengang. Saya tegang. Saya kehabisan akal. Tuhan saya tak kuat lagi…

Saya harus pergi. Ya. Tidak ada alasan lagi untuk saya bertahan disini. Saya benar-benar harus pergi. Saya benar-benar sudah tak tahan lagi. Saya bangkit. Pergi. Saya akan pegi meninggalkan Jiwa dan Hati. Saya berjalan nyaris berlari. Namun, aaah..ada yang menarik saya. Saya menoleh, payudara dan bibir memegang tangan saya. Saya tegang. Kontan nafsu merasuki saya. Tidak, saya tak boleh dikalahkan nafsu. Akal sehat saya terus mencari celah untuk keluar. Ya, saya harus menarik genggaman ini, dan pergi. Tapi tidak, genggaman itu semakin kencang, semakin menarik saya, bak magnet, saya tak ingin lagi terpisah. Tidak. Nafsu sudah benar-benar menggerogoti saya. Menguasai saya. Tak ada celah untuk saya berpikir. Tak ada celah untuk saya melawan. Saya dibawah kendalinya. Ia mengendalikan saya. Saya terbawa nafsu. Kami kembali duduk. Bibir itu menciumi saya. Payudara itu menyusui saya. Saya seperti bayi tanpa dosa. Diciumi. Disusui. Namun saya tahu saya adalah pendosa. Hina. Namun saya tahu saya sedang gila. Maka akan saya biarkan ia tetap menciumi saya. Maka akan saya biarkan ia tetap menyusui saya. Saya haus. Saya gila.

 Malam itu berakhir dengan sangat hina. Saya malu mengatakannya. Tetapi apa yang terjadi membuat saya teramat pantas untuk dilempar. Saya pantas ditampar. Malam itu juga saya kehilangan jiwa. Saya kehilangan hati. Kini saya tak memiliki jiwa. Kini saya tak memiliki hati. Yang tersisa kini hanyalah akal kosong. Saya tak dapat berpikir. Tidak. Yang tersisa kini hanyalah kehinaan. Saya ingin jatuh. Tersungkur. Terinjak. Terhempas. Terlempar angin. Terbawa air. Mengalir. Tak bermuara. Saya membaui air. Biarkan kotoran saya luntur bersama air. Mungkin juga tidak. Yang tersisa kini hanyalah akal kotor. Akal busuk. Saya ketagihan. Saya ingin dicium. Saya ingin dipeluk. Saya masih haus. Saya ingin tak terkendali. Saya ingin mereka datang lagi. Merasuki saya. Menggerogoti saya. Menguasai saya. Mengendalikan saya. Saya ingin mengkhianati Hati dan Jiwa. Saya ingin terpisah. Bebas. Saya ingin tetap kotor. Aaahh, saat ini saya benar-benar merasa terganggu. Semua yang ada di sekeliling saya benar-benar membuat saya terganggu. Akankah ini berakhir?

Jakarta, 5 Desember 2007, 21:49 WIB

Akhirnya Aku Mati

August 13, 2009

Saat ini.

Tik tak tik tak tik…Semua berangsur-angsur sepi. Semua berangsur-angsur pergi. Tak tik tak tik tak.. Semua kini hanya detik. Detik yang makin berdetak. Detik yang makin berteriak. Tegas. Keras. Makin keras. Hingga serak. Semua berangsur-angsur lenyap. Kadang hati menggerutu mengapa bumi ini bulat. Seakan tak ada sudut yang membuat manusia betah menetap. Berangsur-angsur mereka datang. Sekejap itu pula mereka pergi. Andai bumi ini segi empat. Akan kubiarkan hati ini terpental. Tersudut di bagian yang mungkin paling pengap. Hati ini bosan dengan hening. Hati ini bosan dengan detak waktu. Detak jantung yang makin memacu, makin berlari, berlomba, kejar-kejaran mengalahkan jiwa. Meninggalkan jiwa. Ragaku memisah dari jiwa. Aaah aku juga ingin melihat dunia. Aku bosan menjadi nadi yang malas berdenyut. Menjadi detik yang enggan berdetak. Lemah syahwat. Jadi mayat. Ya, aku bosan menjadi mayat. Semua berangsur-angsur temarang. Semua berangsur-angsur redup. Semua berangsur-angsur gelap. Semua berangsur-angsur mati. Aaah, aku belum ingin mati. Aku tak mau mati di sini. Aku tak mau mati di sini dengan cara seperti ini. Aku tak mau mati di sini dengan cara mengenaskan seperti ini. Aku mati di sini. Aku tak mau mati. Mati aku di sini. Jangan biarkan aku mati. Aku mati. Di sini. Mati… Tik tak tik tak tik… Detik pun makin lantang mengalahkan rintik hujan. Bunyinya tak lagi berdetak. Tapi berdentum. DUUUM… DUUUUMM… DUUUMMM… Mengalahkan rintik hujan.. tik… tik… tiikk.. DUUMM… DUUUMMM.. Sesekali ia dikalahkan petir.. tik.. tiikk.. DUUMM.. DUUUUMMM… JGERRR… JGEEEERRR… DUUUUMMMM… JGEEEERRRRRR… DUUUUUUUMM…. JEGEEEEERRR….!! Hati ini sedikit tersenyum. Tertawa. Terbahak. Persetan dengan kesunyian. MAMPUS KAU!!! HUAHAHAHA… Hati ini tertawa. Menertawai hati yang lama ditertawai. Kini aku menertawai hati. Kini aku menertawai diri sendiri. Kini aku menangisi hati. Kini aku menangisi diri sendiri. Aku yang menangis dalam tawa. Tertawa dalam ramai. Ramai dalam kesepian. Kesepian dalam keramaian. Kini akulah sang waktu. Aku hidup sekaligus mati. Mati sekaligus hidup. Hidup di kematian. Mati di kehidupan. Tidak benar-benar mati. Tidak benar-benar hidup. Kini aku menangis. Menangis yang tak lagi meringis, tak lagi meratap, tak lagi berharap. Kini akulah mayat hidup. Tuhan, tidakkah ini teramat buruk?

 …

Beberapa hari sebelum saat ini.

Ia ingin aku mati. Aku tahu itu sudah lama sekali. Ia tak suka aku ada disini. Aku tak peduli. Ia melakukan segala cara agar aku mati. Tapi aku tak juga mati. Aku justru bertambah kuat. Aku menikmati. Ia mencuri hartaku, aku menikmati. Ia mengambil hidupku, aku menikmati. Ia makin tak tahu diri. Ia makin tak punya hati. Aku menikmati. Aku menari-nari. Sungguh aku tak peduli. Akhirnya aku bisa berlari. Akhirnya aku bisa menari. Lama aku berlari. Lama aku menari. Tapi Tuhan, ini tak jauh lebih baik. Kenikmatanku terlalu banyak hingga membuatku limbung. Mual. Muntah. Aku ingin menyudahi. Aku bosan kemaluanku dipegang-pegang. Aku jengah payudaraku diremas-remas. Aku jengah putingku dijilat-jilat. Aku bosan jadi sapi perah. Aku berlari. Untunglah aku dapat berlari. Aku bisa mati jika memaksakan kenikmatan ini. Ia mencariku, aku bersembunyi. Ia mengejarku, aku semakin cepat berlari. Aku akan terus berlari sejauh mungkin, memaksakan diri sampai kematianku kehilangan jejak dan menjauh pergi. Aku akan bersembunyi sampai kematianku lelah mencari. Tuhan, mungkinkah Kau lelah?

 Beberapa jam sebelum saat ini.

Akhirnya aku bisa sembunyi. Dan sampai saat ini aku belum juga mati. Tuhan istirahatlah lebih lama. Biarkan aku menikmati sebenarnya hidup lebih lama lagi. Biarkan aku mencintai diri lebih dalam lagi. Aku bosan dimiliki. Aku letih dikuasai. Aku ingin memiliki diri. Aku ingin menguasai diri. Lebih lama lagi. Aku pegang kemaluanku, aku tertawa geli. Aku masukkan jariku, aku merintih geli. Aku remas payudaraku, aku semakin menikmati. Aku bercermin. Aku lihat bayangan diriku di cermin. Aku lihat diriku di cermin. Dia bukan lagi bayanganku. Dia adalah aku. Aku jadikan cermin sebagai aku perempuan. Aku jadikan diriku sebagai aku laki-laki. Aku jamah cermin itu. Aku jamah diriku. Aku cium cermin itu. Aku cium diriku. Aku jilat cermin itu. Aku jilat diriku. Aku siksa cermin itu. Aku siksa diriku. Aku hancurkan cermin itu. Aku hancurkan diriku. Cermin itu hancur. Bayanganku mati. Tapi aku tak hancur. Aku tak mati. Baiklah Tuhan, aku siap. Ambil aku sekarang. … Ia datang lagi. Tuhan mendengar doaku. Aku yang tak ingin mati dan tak ingin hidup. Aku yang belum juga mati dan mulai membenci hidup, tak tahu harus bagaimana lagi. Aku letih berlari. Aku letih sembunyi. Aku tak mau pergi. Aku akan disini. Tetapi aku bangkit. Ada yang menggerakkan aku. Ada yang membangunkan aku. Dia memaksaku berlari lagi. Aku pun berlari. Ragaku berlari. Jiwaku ikut berlari. Jiwa dan ragaku kini menyatu berlari. Dia menuntunku. Dia menunjukkan arah untukku berlari. Tuhan, Engkaukah itu? Apa maksud semua ini. Aku lelah berlari. Aku sangat letih. Dia tak bersamaku lagi. Dia tak menuntunku lagi. Dia tak menunjukkan arah lagi. Tuhan, benarkah itu Engkau? Dan kenapa Engkau pergi? Kau yang paksa aku berlari, tapi Kau pergi. Kau yang bawa aku sejauh ini, tapi Kau pergi. Apakah Kau benar-benar akan membuatku mati? Atau Kau akan membiarkanku seperti orang mati? Kini aku berhenti berlari. Aku sudah mempersiapkan diri. Aku tak peduli. Aku siap menyambut maut. Aku menyerahkan diri. Aku akan berjalan sendiri menuju ajalku. Aku letih. Tapi aku senang. Aku terluka. Tapi aku senang. Aku kesakitan. Tapi aku senang. Kematianku makin mendekat. Aku terdiam. Mungkin aku sudah mati…

Detik-detik setelah saat ini.

Akhirnya aku mati. Aku mulai merasakan semua tak terasa lagi. Bahkan darah segar tak membuatku merasa perih. Hanya pikiranku yang merasa aku sudah mati. Tapi aku masih bisa berpikir. Berarti aku belum mati. Tidak, mengapa aku tak juga mati. Setidaknya aku senang akan mati dengan cara seperti ini. Aku mati ditanganMu Tuhan, bukan di tangannya yang selalu ingin membuatku mati. Aku menangis. Aku memikirkan Dia datang lagi. Dia mendekat. Menjauh. Hilang. Tidak. Jangan hilang. Dekati aku. Ambil aku. Dia samar-samar. Dia tampak lagi. Jelas. Kali ini sangat jelas. Dia meraihku. Dia menggenggam tanganku. Dia memelukku. Dia menarikku..

 Beberapa jam setelah saat ini.

Akhirnya dia mati. Maafkan aku Candu, kau harus mati dengan cara seperti ini. Tapi aku tahu bukan hanya aku yang ingin kau mati. Bukan hanya kau yang ingin kau mati. Tapi Dia juga ingin kau mati. Maafkan aku Candu, kau harus mati dengan cara seperti ini. Aku ingin kau tidak dimiliki. Bahkan tidak oleh dirimu sendiri. Aku hanya ingin aku yang kau miliki. Tapi kau tak terima permintaanku ini. Maafkan aku Candu, aku membuatmu mati dengan cara seperti ini. Aku mencintaimu. Tempat ini bukan untukmu. Dan saat ini juga bukan untukku. Tempat ini bukan untuk kita. Aku akan menemanimu Candu. Tunggu aku. Karena aku sangat kecanduanmu.

 (Jakarta, 4 Desember, 2007)

Bau!

August 12, 2009

Bau. Kata itu sepertinya sudah melekat di tubuhku. Bila wangi melekat pada bunga. Bila sejuk melekat pada angin. Maka hanya Bau ini yang sudi melekat padaku. Hanya aku yang sudi menumpanginya hidup. Hanya dia yang mau bersamaku. Kami saling ketergantungan. Kami saling membutuhkan. Simbiosis mutualisme. Tidak. Sebenarnya aku tak begitu sudi menemaninya. Bahkan aku muak dengan baunya. Aku bukanlah kerbau yang rela menggendong jalak sepanjang hari. Membiarkan kutunya habis dimakan jalak. Membiarkan jalak kenyang memakan kutu di kulitku. Secara gratis.
Aku mau muntah. Aku mau pingsan. Aku kronis. Tapi aku hanya bisa diam. Lagipula aku tak punya cukup hati untuk mengusirnya. Aku tak punya cukup tenaga untuk melemparnya. Dia terlanjur dekat. Dia terlanjur melekat. Dia terlanjur akrab. Aku terlanjur terjerat. Sumpah, aku tak mau akrab dengannya. Sumpah, aku kritis. Tapi sepertinya tak ada lagi yang mau menampungnya hidup. Sialnya, sepertinya juga tak ada lagi yang mau melekatkan diri padaku. Tak ada lagi yang berani mendekatiku. Tak ada lagi yang sudi berlindung padaku. Tak ada lagi yang mengharapkanku. Tak seperti si Bau sialan kurang ajar ini yang dengan lancang tanpa permisi, tanpa diundang, tanpa dibukakan pintu, tanpa dipersilakan masuk, tanpa disuruh duduk, tanpa diajak senyum, tanpa disediakan minum, tanpa disuruh menunggu, langsung saja masuk. Tidak permisi dulu, tidak basa-basi dulu, tapi langsung memelukku, menjamahku dan menggerayangiku. Lebih sialan lagi dia sangat betah tinggal bersamaku. Numpang makan. Numpang tidur. Numpang hidup. Secara gratis. Dan sekarang hanya tinggal Bau. Bau sampah. Bau taik. Bau kentut. Bau muntah. Bau pesing. Bau congek. Bau kaki. Bau ketek. Bau bawang. Bau amis. Bau comberan. Bau segala-galanya bau. Bau selama-lamanya bau. Bau sebau-baunya bau. Bau yang paling bau sekali, dari bau-bau yang teramat sangat luar biasa bau sekali, diantara bau-bau yang ada, yang melekat di tubuhku. Itupun tidak cukup untuk memperkenalkan nama dan identitas si Bau sialan ini. Ia seperti anak kecil yang hilang, tapi dengan wajah yang sama sekali tak lucu. Sama sekali tak lugu, sama sekali tak menggemaskan. Ia seperti anak kecil dengan wajah menakutkan, licik, dan memuakkan yang hilang ditengah-tengah pasar. Namun bukannya ketakutan, ia justru mengacak-acak semua dagangan. Ia mengobrak-abrik pasar. Jelas mana ada yang peduli padanya. Bisa-bisa malah disumpah jatuh terpeleset dari tangga lantai lima. Terguling-guling. Berdarah segar. Jatuh ke lantai paling dasar. Tidak ditolong. Tapi ditendang ke jalan. Lalu tertabrak mobil. Gepeng. Berantakan. Persis seperti bangkai tikus. Bukannya ditangisi, mereka malah tersenyum tipis. Jadi terpaksalah aku dengan sangat-sangat terpaksa memaksakan diri untuk menerimanya. Si sampah masyarakat. Jadi terpaksalah aku dengan sangat-sangat terpaksa merelakan kenyataan bahwa semua orang enggan melihatku apalagi mendekatiku. Mungkin hanya dalam keadaan terpaksa mereka melihatku bahkan mendekatiku. Tapi sekali lagi hanya terpaksa. Itupun tak lama. Tak lebih dari sepuluh detik. Tak pernah sampai semenit. Itupun dengan tatapan jijik sejijik-jijiknya. Najis senajis-najisnya. Mereka seperti melihat setan. Tidak! Mereka seperti melihat rumah setan dan bau-bau sialan ini menjelma menjadi setan, iblis, kuntilanak, genderuwo, sundel bolong, kalong wewe, drakula, vampir cina yang siap menakut-nakuti. Dan setiap melewatinya, seakan menjadi kewajiban untuk menutup hidung dengan tangan, dengan tisu, dengan masker, dengan saputangan, lalu berlari. Beberapa orang mungkin ngibrit. Kini, semua terlanjur mengindetikkan aku dengan Bau. Mengindetikkan Bau dengan aku. Aku adalah Bau. Bau adalah aku. Namaku Bau. Bau namaku. Aku Bau. Bau aku. Najis. Cuiih…

Pagi-pagi sekali, matahari masih tertidur. Tapi ayam sudah lebih dulu berkokok. Tapi alarm jam sudah lebih dulu berbunyi. Tapi saya sudah lebih dulu terbangun. Tadi, saya bangun jam dua pagi. Kemarin saya teramat lelah. Akhirnya jam delapan malam sudah ketiduran. Dan sekarang saya pun bangun kepagian. Ah, tapi badan rasanya mati rasa. Kaki serasa kaki gajah. Tangan serasa patah. Kepala serasa terbelah. Semuanya jadi serba salah. Mau bangun salah. Mau tidur lagi salah. Mau mandi salah. Mau tak mandi salah. Mau ini salah. Mau itu salah. Mau tak mau salah. Jadi yang paling benar saya memilih cuci muka, terus bengong. Pagi-pagi begini memang paling enak bengong. Mengkhayal. Semua yang enak-enak. Sebelum semuanya benar-benar terjadi ditelan hari. Dimakan matahari. Dikunyah senja. Dilumat malam. Dimuntahkan lagi besok pagi. Dan untuk orang semiskin saya, khayalan yang teramat indah sudah pasti jadi orang kaya. Tapi jangan salah. Saya tidak cukup berani bermimpi jadi orang kaya. Parah memang, mimpi saja tak berani. Tapi masa bodoh. Lagipula apa enaknya jadi orang kaya. Saya takut jadi orang kaya. Takut dimalingin. Takut dicopet. Takut dirampok. Mending cuma dirampok. Saya takut rampoknya nekat, terus saya dibunuh. Mending cuma dibunuh. Saya takut rampoknya benar-benar kesetanan terus saya dipotong-potong. Dimasukkan ke koper. Dimasukkan ke lemari. Dikunci. Dibiarkan busuk. Bau busuk. Bau bangkai. Amit-amit. Naudzubillahiminzalik. Saya takut jadi orang kaya. Apa-apa kurang. Ini kurang. Itu kurang. Rumah banyak, kurang. Uang banyak, kurang. Takut khilaf. Takut dosa. Masuk neraka. Amit-amit. Naudzubillahiminzalik. Aah, sudahlah. Ngawur. Sepertinya saya sudah kebanyakan bengong. Jangan–jangan benar kata orang, jangan kebanyakan bengong, kemarin ayam tetangga bengong, eh mati kesetanan. Walaupun saya agak marah dibanding-bandingkan dengan ayam. Ayam kampung. Bau ayam. Ah, tapi saya takut kesetanan. Saya takut mati.
Mending saya berangkat kerja. Cari uang buat makan biar nggak mati. Tapi saya belum ngopi. Ah, biarin lha, pamali belum dapat uang sudah dihabisin buat ngopi. Tapi saya belum mandi. Kata orang rezeki bakal seret kalau belum mandi. Ah biarin lha. Paling nanti juga bau lagi. Orang kerjaan saya juga cuma tukang sampah. Justru bau itu rezeki saya. Bau sampah.

Namanya Slamet. Tak begitu tua. Tapi tak pantas dibilang muda. Entah usianya berapa. Ia tak ingat lagi, bahkan tak ambil pusing kapan ia lahir. Tanggal dan bulan berapa. Ah, mungkin hanya tahunnya saja yang ia ingat. Itupun ia hanya ingat kalau ia lahir tahun tujuh puluhan. Jadi yang ia tahu usianya baru tiga puluhan. Tapi sampai tahun ini ia belum juga menikah. Ia merasa dirinya miskin. Pekerjaannya cuma tukang sampah. Warisan bapaknya. Walaupun setidak-tidaknya ia mengalami mobilitas sosial. Ia tukang sampah yang terkena dampak globalisasi. Bapaknya dulu pemulung, keliling-keliling bawa keranjang, kresek, atau karung. Sementara Slamet kini sudah punya gerobak sampah. Pakaiannya pun sudah seragam. Warna oranye. Namun kini berubah jadi agak kecoklatan. Ia tak berani menikah. Dipikirnya untuk hidup sendiri saja sudah susah, apalagi harus menghidupi orang lain. Belum lagi kalau punya anak. Belum lagi kalau anaknya banyak. Mau dikasih makan apa itu anak. Mau disekolahkan pakai apa itu anak. Bisa-bisa cuma menambah banyak populasi tukang sampah.
Slamet kini tinggal sendirian. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Kondisinya terlalu lemah. Malah bidan Yati yang membantu persalinannya memprediksi si anak juga bakal meninggal. Tapi rupanya dia selamat. Itulah kenapa akhirnya dia dinamakan Slamet. Slamet yang malang. Tak punya ibu. Berbapak pemulung. Si ibu yang sudah meninggal membuat ia terpaksa menerima kenyataan tak akan pernah punya adik. Si bapak yang pemulung membuat ia sedikit bersabar untuk punya adik tiri. Mana ada yang mau jadi istri pemulung. Paling yang mau juga sesama pemulung. Paling kaya, pembantu. Tapi kenyataannya sampai si bapak meninggal ia masih duda.
Bapaknya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Persis sejak ia mulai mewariskan jabatannya kepada Slamet. Saat Slamet berusia dua puluhan. Dan sejak sepuluh tahun lalu, Slamet harus berjuang hidup sendirian. Setidaknya berjuang makan hari ini. Besok itu urusan nanti. Untung, nasib Slamet sedikit lebih baik. Lebih beruntung. Tak lama jadi pemulung ia banyak berteman dengan pemulung sampai tukang sampah gerobak. Nepotisme pun terjadi di dunia persampahan. Ia diajak kerja menjadi tukang sampah. Gajinya seratus lima puluh ribu sebulan. Tapi itu belum ditambah tip dari pelanggan. Belum lagi ditambah hasil jualan kiloan botol bekas, karung bekas, kaleng bekas, plastik bekas. Prinsipnya semua yang bekas dan bisa menghasilkan pasti ia jual. Kalau masih bagus biasanya disimpan. Kalau ditotal gajinya bisa tiga ratus ribuan. Tapi menurutnya, itu tak terlalu cukup membahagiakan orang lain. Perempuan berlabel istri. Ia tetap memilih hidup sendiri. Slamet tak pernah menyesal. Namanya membuat ia teramat yakin di hidup ini tak ada yang lebih penting dari keselamatan. Jadi biarlah hidup miskin, sendirian, yang penting selamat. Dunia akhirat.
Pergilah Slamet pagi ini setelah bengong lama sekali. Bengong, mengkhayal tak karuan. Memimpikan hal yang tak pernah berani ia jadikan kenyataan. Dengan bangga ia memakai seragam kebesaran. Dengan bangga ia mengendarai gerobak kebanggaan. Berjalan. Walaupun belum mandi. Berjalan. Mencari sampah. Berjalan. Mencari rezekinya.

Gerobak itu terus dikendarainya. Slamet menato gerobaknya dengan nama Redjeki. Tak seperti orang tua yang susah payah mencari buku arti nama untuk menamai bayinya, ia hanya perlu lima menit menamainya. Redjeki. Sebuah doa. Biar dapat rezeki. Mungkin dalam kasta tukang sampah, Slamet adalah orang kaya nomor dua. Kasta pertama ditempati mereka yang membawa truk sampah. Slamet yang tak pernah berani bermimpi jadi orang kaya, sebenarnya sudah menjadi orang kaya. Setidaknya di kebangsaannya. Mungkin itulah rezekinya dari Redjeki.
Gerobak sampah itu bernama redjeki. Redjeki yang sering dianggap orang bau. Redjeki yang berkulit merah kotor itu kini harus kembali menampung segala bau. Segala sampah. Sampah masyarakat. Secara gratis. Tak pernah ia mendapatkan imbalan dari kerja kerasnya menggendong mereka. Semua jatahnya dimakan Slamet. Sendirian. Ia semakin lusuh. Fisiknya jelas memperlihatkan ia sudah renta. Si renta yang obesitas. Ia teramat banyak menampung bau di perutnya. Luka kelupas di kulitnya tak mampu menyembunyikan bahwa ia tersiksa. Ia terlantar. Ia limbung. Ia kritis. Ia kronis. Tapi ia hanya bisa diam. Tapi ia tetap setia. Ia setia pada tuan sekaligus sahabatnya. Ia pun tetap berjalan. Meski harus didorong. Kadang Slamet mendorongnya kuat sekali. Ia seperti berlari. Ia seperti terbang. Dimatanya, Slamet benar-benar sudah tak tahu diri. Ia kelelahan. Ia berteriak. Tapi Slamet tak mendengar. Slamet tak menghiraukan sakitnya. Mereka terus berjalan. Ia berkeringat.
Matahari mulai memeluk mereka dengan sangat hangat. Bahkan membuat keduanya terbakar. Siang yang sangat terik. Dua sahabat yang sedang salah pengertian itu tetap berjalan bersama. Tepatnya Slamet memaksa Redjeki yang renta untuk tetap berjalan bersama. Redjeki tampak benar-benar lelah. Ia mengeluarkan keringat yang menetes deras dari kakinya yang bersepatu roda. Menyisakan genangan di jalan. Slamet tak pernah tahu. Yang ia tahu itu hanya air yang tumpah dari sampahnya. Redjeki mengamuk. Slamet tak pernah tahu. Slamet kembali mendorongnya kuat. Tidak. Kali ini Redjeki-lah yang menarik Slamet. Kuat. Ia masih memiliki sisa tenaga untuk menariknya. Ia membuat Slamet kehilangan arah, dan akhirnya terjatuh. Redjeki pun muntah. Ia muntahkan isi perutnya. Semua sampah itu berserakan di jalan. Semua bau itu berserakan dijalan. Menyisakan Slamet yang kelelahan dan menyesal menyaksikan sampahnya berserakan.
“Gusti Allah, kenapa lagi ini… Redjeki piye toh kamu? Kenapa kamu? Capek, hah? Udah bosen kamu kerja? Kamu tahu aku juga lebih capek toh. Pusing aku.” Redjeki hanya diam. Kepalanya menunduk seakan menurut. Slamet pun diam. Matanya menunduk seakan menyesal. Menunduk dan terperanjat. Berlembar-lembar uang lima puluh ribuan berserakan di jalan. “Masya Allah, siapa yang uangnya kebuang? Ya ampun Gusti, banyak sekali”. Tangan Slamet benar-benar gemetaran. Persis seperti anak SD yang gugup membacakan undang-undang di tengah lapangan. Dipungutnya satu demi satu uang yang berserakan. Satu demi satu dan jumlahnya kini lima puluh lembar uang lima puluh ribuan. Slamet bahkan tak tahu jumlahnya berapa sekarang. Ia menatap Redjeki yang masih menunduk. Slamet bingung. Ia lihat sekeliling mungkinkah dibelakangnya ada orang. Tapi dibelakangnya sama sekali tak ada orang. Slamet pun terdiam. Mau diapakan ini uang. Mimpi apa ia semalam. Mimpi jadi orang kaya pun tak berani ia lakukan, dan sekarang mimpinya benar-benar tak sesuai kenyataan. Disimpannya uang itu dalam-dalam di dalam saku kaus oblong di dalam seragam kebesarannya karena takut kemalingan, takut dirampok. Mending cuma dirampok. Ia takut rampoknya nekat terus dibunuh. Mending cuma dibunuh. Ia takut rampoknya benar-benar kesetanan terus ia dipotong-potong. Dimasukkan ke koper. Dimasukkan ke lemari. Dikunci. Dibiarkan busuk. Bau busuk. Bau bangkai. Amit-amit. Naudzubillahiminzalik. Slamet pun ngibrit. Menggandeng Redjeki yang masih menunduk di jalan. Ia biarkan sampah menggenangi jalan. Ia biarkan bau menjalari jalan. Hingga angin yang sejuk menariknya. Hingga bunga yang wangi menghirupnya.
Senyum lega melengkung di bibir Redjeki. Senyum kemenangan. Setidaknya masa kritisnya sudah berakhir. Ia seperti ibu yang puas mengeluarkan bayi yang selama sembilan bulan menggelembungkan perutnya. Keringat dan sakitnya berubah senyum. Bahagia. Walau Slamet belum sadar dialah rezekinya. Setidaknya ia tahu Slamet tetap setia. Dan ia tahu ia akan tetap setia.
(Jakarta, 11 Desember 2007, 10:37 WIB)